Dukungan Amerika Ke Israel, Melunturkan Ekonomi dan Kepercayaan Global pada Dollar & Saham Global

Seputaremas.co.id | 3 Desember 2023 – Pemerintah Amerika Serikat (AS) telah mengirimkan bantuan militer signifikan ke Israel dalam upaya membantu mengusir kelompok Hamas dari Gaza (03/12/2023), AS Kirim 1 Ton Bom Canggih ke Israel, Efek Ledaknya Ngeri 
Para pejabat AS mengungkapkan bahwa pasokan senjata tersebut termasuk bom penghancur bunker berukuran besar dan puluhan ribu senjata serta peluru artileri lainnya, termasuk persenjataan untuk warga sipil Israel.

Peningkatan persenjataan ini dimulai tidak lama setelah serangan pada tanggal 7 Oktober dan terus berlanjut dalam beberapa hari terakhir. Amerika Serikat sebelumnya tidak merinci jumlah total senjata yang dikirimkan, tetapi di antaranya termasuk sekitar 15.000 bom dan 57.000 peluru artileri. Selain itu, terdapat transfer 100 unit BLU-109, bom penghancur bunker yang memiliki berat sekitar 2.000 pon atau nyaris 1 ton.

Israel Terus Bantai Warga Sipil di Gaza, Gedung Putih Bereaksi Keras
Direktur Dewan Keamanan Nasional Gedung Putih, John Kirby, menyatakan bahwa AS tidak mendukung pemboman Israel di Jalur Gaza selatan kecuali jika keselamatan semua warga sipil yang mengungsi dipertimbangkan. Israel mengumumkan lebih dari 400 serangan di Gaza setelah upaya memperpanjang gencatan senjata dengan Hamas gagal, menewaskan minimal 200 warga Palestina terbaru ini. Sejak awal perang pada 7 Oktober, lebih dari 15.200 warga sipil tewas, dengan 70% di antaranya perempuan dan anak-anak. Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengakui menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk memilih target, meningkatkan kapasitas penghancuran dari 50 menjadi 100 target per hari. Meskipun IDF menyatakan tindakan mereka “tidak bersifat bedah,” ada keraguan apakah dampak serangan terhadap warga sipil selalu dipertimbangkan dengan serius oleh komandan IDF.

AS Terpecah Gegara Israel, Pemerintahan Joe Biden Goyah
Pemerintahan Joe Biden di Amerika Serikat terbagi dalam pandangan mengenai kebijakan Timur Tengah, khususnya terkait serangan Israel di Palestina. Lebih dari 500 pejabat politik dan staf pemerintahan dari berbagai lembaga mengkritik dukungan Biden terhadap Israel dalam perang di Gaza.

Lebih dari 1.000 staf USAID menandatangani surat terbuka yang menyerukan pemerintah untuk memanfaatkan pengaruhnya guna membatasi jumlah korban sipil. Beberapa staf Departemen Luar Negeri mengusulkan perubahan kebijakan melalui saluran resmi perbedaan pendapat. Menteri Luar Negeri Antony Blinken merespons perbedaan pendapat ini dengan serius, mengakui adanya diskusi di seluruh dunia dan menekankan bahwa pemerintah mendengarkan umpan balik dari mereka.

Perbedaan pendapat dan frustrasi terhadap respons militer Israel di Gaza telah menyebar ke seluruh pemerintahan AS, dengan kritik terhadap komentar publik Biden yang dianggap bersifat zero-sum dan sikap skeptis terhadap jumlah korban di Gaza yang menjadi pemicu utama semakin bertambahnya korban dari warga sipil yang kini menjadi 15.000 jiwa lebih.

Perang di Timur Tengah Berdampak pada Ekonomi Dunia.
Dosen Departemen Ekonomika dan Bisnis Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada, Anggito Abimanyu, menganalisis bahwa konflik antara Hamas dan Israel di Timur Tengah memiliki potensi menimbulkan ketidakpastian baru terhadap perekonomian global. Analisis ini muncul bersamaan dengan peringatan sebelumnya dari International Monetary Fund (IMF) terkait perlambatan pemulihan ekonomi global pasca pandemi Covid-19 dan serangan Rusia ke Ukraina yang memengaruhi stabilitas harga energi dan pangan dunia.

Anggito menyoroti dampak gangguan yang ditimbulkan oleh konflik tersebut, mencerminkan kesulitan melindungi perekonomian dari goncangan global yang semakin sering dan tidak dapat diprediksi. Konflik ini bahkan mengaburkan hasil pertemuan IMF dan World Bank di Maroko, yang dihadiri oleh para pembuat kebijakan ekonomi terkemuka dari berbagai negara.

Presiden Bank Dunia, Ajay Banga, menyatakan bahwa perekonomian dunia berada dalam kondisi sulit. Banga menekankan bahwa perang tidak membantu bank sentral dan dapat menghadapi kesulitan dalam mencapai soft landing, merujuk pada upaya meredakan inflasi tanpa memicu resesi. Meskipun dampak awal perang di Timur Tengah terhadap perekonomian dunia terbatas dibandingkan dengan perang di Ukraina, Banga memperingatkan bahwa penyebaran konflik tersebut dapat menjadi berbahaya dan menciptakan krisis dengan proporsi yang tidak terbayangkan.

Anggito mencatat kekhawatiran terkait pasar minyak dunia, khususnya harga energi. Ia mengutip pernyataan Chief Economist IMF, Pierre-Olivier Gourinchas, yang menyatakan bahwa masih terlalu dini untuk menilai apakah lonjakan harga minyak baru-baru ini akan berkelanjutan. IMF telah melakukan penelitian mengenai dampak kenaikan harga minyak, dengan hasil bahwa kenaikan sebesar 10% dapat membebani perekonomian global, mengurangi produksi, dan meningkatkan inflasi.

Dalam Outlook Ekonomi Dunia terbarunya, IMF menekankan kerapuhan pemulihan ekonomi global. Meskipun proyeksi pertumbuhan global untuk tahun ini dipertahankan sebesar 3%, perkiraan untuk tahun 2024 sedikit diturunkan menjadi 2,9%. Gourinchas menilai bahwa perekonomian global sedang mengalami kesulitan, dengan gambaran jangka menengah yang lebih suram, termasuk risiko terkait perubahan iklim dan bencana alam besar.

Sementara itu, Eropa terjebak di tengah meningkatnya ketegangan global, terutama setelah serangan Rusia ke Ukraina. Pemerintah Eropa berusaha mengurangi ketergantungan pada gas alam Rusia dengan beralih ke pemasok di Timur Tengah. Uni Eropa menyatakan solidaritas dengan Israel dalam menghadapi serangan dari Hamas, sementara Indonesia tetap teguh dalam mendukung kemerdekaan Palestina dan mengecam tindakan balas dendam Israel di Gaza. Indonesia juga mengajukan permintaan kepada PBB agar segera mencapai gencatan senjata untuk mencegah eskalasi menjadi krisis dunia yang lebih besar.

Dampak Resiko Geopolitik saat ini bagi ekonomi Global adalah, Menghancurkan Dasar Kepercayaan pada Pemerintahan dalam menyelesaikan Konflik yang terjadi, setelah Myanmar, Perang Rusia dan Ukraina, kini Agresi Israel di Gaza, PBB memiliki beban yang cukup besar dalam mengupayakan peredaman konflik yang terjadi sampai saat ini, sementara itu Potensi Peperangan menjadi lebih besar akibat Agresi Israel yang Menargetkan Wilayah Sipil tanpa Menjamin keselamatan mereka setelah adanya Genjatan Senjata sebelumnya, sementara dari segi Ekonomi, bahkan Kebijakan Fiskal & Moneter tidak akan dapat membantu Bank Central (the fed) dalam berupaya memulihkan ekonomi, Sehingga Depresiasi pada Index dollar akan terus terjadi dan mengakibatkan Freefall/kejatuhan tanpa dasar, yang akan di susul oleh Jatuhnya saham-saham Global akibat Jatuhnya Kepercayaan Publik pada Minim nya Resolusi yang dapat di hasilkan oleh PBB dalam mencapai perdamaian dan menumbuhkan sentimen positif baik pada keamanan maupun pada Pertumbuhan ekonomi. (red)

Leave a Reply